between Mood and Modality

With the concept of Mood and Modality introduced by Halliday (1994) theorizing about the degree of definiteness in interlocutors’ utterances, linguists are now seeking to unravel the application of theory not only spanning across the spoken interlanguage, but also other languages, such as vernacular language.

Dengan adanya konsep Mood dan Modality yang diperkenalkan oleh Halliday pada tahun 1994, para ahli bahasa tidak hanya ingin menelitinya di dalam satu bahasa meskipun dengan konteks yang berbeda, aka

n tetapi mereka juga ingin meneliti apa konsep tersebut itu juga berlaku untuk bahasa daerah, terutama di Indonesia.

Mood dan modality menjelaskan tentang pilihan gramatikal yang tersedia oleh si pembicara dalam tataran klausa dengan mengamati tingkatan ke “definite” an pada pengucapan orang-orang yang berdialog tersebut.  Hal ini juga merujuk pada bagaimana cara kita mengkonstruksi kalimat untuk “meminta sesuatu (izin, maaf, dll)” dan bagaimana respon dari permintaan tersebut diformulasi, dengan melihat kepada konteksnya…. (meminta kepada orang yang lebih tua, seumur, orang yang tidak dikenal, dll)

Nah, dari sinilah teori kesopanan itu muncul, dan kita juga menyadari bahwa derajat kesopanan pada setiap social setting juga berbeda satu sama lain, oleh karena itu derajatnya diukur melalui alat yg disebut “mood” dan modality, yang kemudian berkembang menjadi “modalisation” dan “modulation”.

  • Analisis mood menjelaskan tentang infleksi kata kerja melalui sudut pandang tingkatan ketidakpastian. Misalnya kalimat Yes/No question (direct) [Are you going out today?] || pernyataan deklaratif dengan intonasi suara yang meninggi (indirect) [You’re going out today?] yes/no questions dianggap lebih sopan karena INCONGRUENT REALIZATIONS OF THE INTERROGATIVE FORM ARE  LESS DIRECT WAYS OF REQUESTING
  • Analisis modality merujuk pada wilayah makna antara YA dan TIDAK –wilayah antara polaritas negative dan positif dan memiliki dua tipe, yaitu
  1. Modalisation; merujuk pada klausa-klausa yang memberikan informasi
  2. Modulation; merujuk pada klausa-klausa GOODS AND SERVICES (barang dan pelayanan???)

Modalisation and modulation terdiri dari

  1. Finite modal verbs = will, would, could, should, might, must
  2. Modal adjuncts = probably, possible, just
  3. Comment adjuncts = I think, unfortunately

Note: semakin banyak unsur modalitas digunakan dalam suatu ucapan, maka semakin tidak pasti konteks dari ucapan itu.

“It’s certainly hot here”

“It’s hot here”

Advertisements

Author: nurrizkyalfianysuaib

I'm struggling with critical thinking deficit.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s